Ritoma_naoki's

Korea dan Serial TV Drama

Posted by: ritoma on: December 16, 2010

Selesai chat dengan adek yang lg bingung tentang rencana beasiswanya ke Korea, jd mengingatkan saya tentang tulisan yang pernah saya buat waktu lg mumet2nya ngerjain penelitian tahun 2005 lalu. semoga membangkitkan kembali semangat waktu itu.^_^

selamat membaca

Korea dan Serial TV Drama


Hey Han burung! Kau ini bodoh ya?, Masa membersihkan rumah saja tidak bisa?! Lihat! Masih kotor begini”

“Heh Li Yong Jae! Kau ini jahat sekali, kenapa kau selalu memarahiku? Kau ini salah makan ya? Atau salah minum obat?”

Penonton setia serial TV drama pasti sangat familiar dengan kalimat ini, sepengggal cerita dari salah satu serial TV drama Korea yang baru-baru ini ditayangkan di salah satu TV swasta. Jika berbicara tentang Korea Selatan atau cukup kita sebut Korea dan budaya masyarakatnya, sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin akan menggelengkan kepala atau menjawab mirip seperti Jepang dan China. Namun, penggemar serial TV drama mungkin selangkah lebih maju dalam mengenal Korea. Karena selain ginseng, taekwondo atau handphone, serial TV drama telah menjadi trend baru yang berasal dari Korea. Setelah era serial drama Jepang dan Taiwan, kini giliran serial TV drama Korea yang booming di Indonesia.

Serial TV drama Korea sebenarnya sudah ditayangkan di Indonesia semenjak tahun 2002 melalui serial Endless Love, namun baru beberapa bulan terakhir ini benar-benar sukses. Dua serial terbaru yang ditayangkan di tahun 2005 yaitu Full House dan Lovers in Paris bahkan berhasil menjadi top rating acara TV mengikuti kesuksesannya di beberapa negara Asia seperti Taiwan dan Filipina. Jika sebelumnya pemirsa di Indonesia mengenal karakter Kenji dan Rika Akana (Tokyo Love Story) atau F4 dan San Chai (Meteor Garden), kini pemirsa Indonesia pun telah mengenal karakter Li Yong Jae dan Han Ji Eun (Full House), atau Kang Tae Yung dan Han Ki Ju  (Lovers in Paris).

Banyak hal yang menyebabkan drama Korea digemari dan mampu memberikan angin segar baru bagi pemirsa TV di Indonesia. Aktor dan aktris papan atas Korea merupakan faktor utama yang menarik perhatian pemirsa. Ide ceritanya sederhana dan mengambil setting tentang kehidupan sehari-hari. Dengan penggarapan yang serius cerita itu bisa dikemas menjadi sebuah serial drama yang menarik. Selain karena tema percintaan yang selalu laku dipasaran, tokoh-tokoh yang ditampilkan pun memiliki karakter yang kuat dan realistis dengan kehidupan sehari-hari.

Selain hal yang disebutkan tadi, ada fenomena yang menarik dari serial TV drama Korea dan tidak saya temukan dari kebanyakan serial TV (sinetron) Indonesia. Menggelitik rasa ingin tahu saya tentang Korea, seperti itukah gambaran masyarakat Korea? atau “it’s just a movie”, sebuah fiksi semata. Fenomena yang saya maksud adalah nilai budaya timur yang banyak ditampilkan dalam serial drama Korea, menandakan nilai-nilai tersebut masih dipertahankan oleh masyarakat Korea dalam kehidupan sehari-harinya.  Makna penting keluarga dan tata krama pergaulan dalam masyarakat merupakan salah satu diantara nilai budaya timur yang masih dipertahankan oleh masyarakat Korea.

Salah satu serial drama yang menggambarkan mengenai budaya dan masyarakat Korea adalah serial Friends (ditayangkan di Indonesia tahun 2003). Serial drama hasil kerja sama sineas Jepang dan Korea ini dibuat untuk menyambut World Cup 2002 sebagai ajang promosi budaya kedua negara. Penghormatan terhadap nilai kekeluargaan diwujudkan masyarakat Korea dalam bentuk etika dalam berbicara, bersikap dan bertindak baik itu dalam keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Budaya ini melahirkan kebiasaan yang unik walaupun terkesan kaku, bagaimana berbicara kepada orang tua, penentuan siapa yang akan duduk di mana, siapa yang harus duduk terlebih dahulu atau siapa yang harus menyapa dan disapa terlebih dahulu. Sopan santun merupakan nilai lebih yang masih kuat dipegang oleh masyarakat Korea.

Pergaulan antar lawan jenis merupakan hal lain yang menarik dari serial drama Korea dan saya mengacungkan jempol untuk itu. Masyarakat Korea masih menganggap pernikahan sebagai hal yang sakral, ditengah maraknya trend free sex sebagai gaya hidup. Jika serial drama dari negara Asia lainnya seperti Jepang atau Taiwan banyak mengumbar adegan “panas” untuk menjual ceritanya, serial drama Korea mampu menampilkan kisah percintaan yang romantis dengan sopan dan tetap  menarik. Walaupun bertemakan drama percintaan, rasa sayang dan cinta tidak diekspresikan dengan mengeksploitasi unsur-unsur seksualitas.

Dari serial drama ini, saya juga melihat adanya perbenturan budaya barat sebagai dampak dari globalisasi dengan budaya Korea sebagai representasi budaya timur. Orang tua yang masih kuat memegang tradisi harus dihadapkan dengan anak-anaknya yang berpikir lebih modern dan independen. Walaupun begitu, sang anak masih tetap menunjukan rasa hormatnya kepada orang tua dan tetap berbakti kepada mereka. Perbedaan keinginan dalam meraih cita-cita dan memilih pasangan hidup merupakan tema yang sering diangkat untuk menggambarkan fenomena tersebut. Selain serial Friends, serial drama lain seperti Endless Love, Full House, Lovers in Paris dan Sassy Girl-Chun Hyang juga memberikan gambaran yang sama.

Hal terakhir dan yang paling berkesan bagi saya dari serial TV drama Korea adalah etos kerja. Hampir semua drama Korea yang saya tonton selalu menampilkan etos kerja yang tinggi dari masyarakat Korea. Masyarakat Korea digambarkan sebagai masyarakat yang disiplin dan pekerja keras. Sosok yang produktif dan mandiri dalam kondisi sesulit apapun. Kim Ji Fun (Friends), harus bekerja sebagai pengantar air mineral demi meraih cinta dan cita-citanya menjadi sutradara; Chun Hyang (Sassy Girl), yang tetap pantang menyerah walaupun tidak bisa kuliah; dan Kang Tae Yung (Lovers in Paris) yang harus kerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya merupakan satu diantara sosok generasi muda dalam serial TV drama Korea. Gambaran ini berbeda dengan sinetron Indonesia yang lebih menampilkan generasi muda kita dengan sosok yang senang berhura-hura atau berganti-ganti pacar dari pada belajar dengan giat atau bekerja dengan semangat. Gambaran ini tampak tidak realistis dengan realitas yang ada, karena banyak generasi muda kita yang memiliki prestasi yang luar biasa ditingkat nasional maupun internasional yang diraih dengan usaha yang tekun dan kerja keras.

Mengenai etos kerja ini, ada satu kata yang sangat berkesan dan sering saya ucapkan semenjak menonton drama korea yaitu “Bersemangat!”, yang dalam bahasa Korea berarti “Aja!”. Seperti kata “Figthing!” atau “Banzai!”, “Aja!” berarti jangan menyerah dan terus berusaha. “Aja!” juga berarti optimis untuk bangkit dari kegagalan dan mencari jalan lain menuju kesuksesan. Dengan mengepalkan tangan dan berteriak “Aja!”, Tae Yung bisa tetap tegar menghadapi segala ujian hidupnya dan Ji Eun bisa pantang menyerah meraih cita-citanya. Kata ajaib dari serial TV drama Korea, “Ayo bersemangat!”.

Terlepas dari semua itu, ada hal yang seakan menyadarkan dan mengingatkan saya ketika menonton serial TV drama Korea. Saya melihat, walaupun hanya memiliki satu bangsa dan satu bahasa, masyarakat Korea begitu bangga dengan budayanya. Sedangkan rasa bangga akan budaya Indonesia sepertinya tidak lagi digaungkan dan mulai terlupakan oleh bangsa Indonesia. Rasa bangga itu mungkin mulai pudar dan tenggelam seiring dengan berbagai permasalahan yang datang silih berganti merundung negeri ini, mulai dari bencana alam, wabah penyakit, krisis BBM sampai disintegrasi bangsa. Kita lupa bahwa di antara ribuan pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke, terdapat kekayaan yang tak ternilai harganya yaitu kekayaan suku bangsa, bahasa dan budaya. Kita seharusnya merasa sangat bersyukur dan merasa sangat bangga sebagai bangsa yang besar ini.

Bangga terhadap budaya sendiri juga tampaknya belum terlihat dari karya sineas kita dalam film atau sinetronnya. Sinetron kita lebih sering menampilkan gaya hidup barat dibandingkan budaya Indonesia seperti budaya hedonisme dan gaya hidup bebas. Padahal rasa bangga merupakan modal penting untuk menghadapi berbagai masalah yang sedang membelit bangsa ini. Rasa bangga akan melahirkan rasa memiliki yang mendorong semua elemen bangsa untuk bekerja keras membangun dan menata kembali bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik dan maju.

Seperti halnya Korea, film bisa jadi merupakan sarana yang cukup efektif untuk membangkitkan kembali rasa bangga terhadap budaya Indonesia. Karena saat ini film tidak hanya sebagai tontonan tapi juga telah menjadi tuntunan dan begitu dekat dengan masyarakat.  Mengangkat budaya bangsa dalam sebuah film atau serial TV bisa dijadikan alat promosi budaya kita, setidaknya kepada bangsa Indonesia sendiri. Mengangkat budaya bangsa sendiri bukanlah hambatan untuk membuat film yang berkualitas dan laku di pasaran, karena  serial drama Korea telah membuktikannya.

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari serial TV drama Korea termasuk mengenal budaya dan masyarakat Korea selain menjadi alternatif tontonan yang menghibur. Dan tentu saja patut diingat bahwa serial TV drama Korea tetaplah hasil kreasi dan imajinasi dari penulis naskah dan sutradara. Serial TV drama Korea semata-mata dibuat untuk menjadi produk hiburan yang bisa laku di pasaran. Serial TV drama hanyalah sebuah jendela kecil sehingga tidak bisa dijadikan sebagai acuan utama untuk menggambarkan budaya dan masyarakat Korea. Namun, orang sukses adalah orang yang mau belajar dan mengambil pelajaran dari hal apapun. Jika dari serial TV drama Korea kita bisa belajar, kenapa tidak?.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Twitter

Arsip

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.